Saya itu...

Yah, saya hanya seorang anak kuliahan biasa yang ngefans sama Deadpool.

Disini saya akan membagikan cerpen-cerpen orisinil buatan saya sendiri, mungkin juga bisa gambar-gambar saya, curhat, artikel yang saya bikin, pokoknya suka-suka saya lah... (digampaarrr)

Yah, intinya, jadilah pembaca dan pengkritik dan pengomentar yang baik. Kalau ada kesalahan atau kurang setuju dengan pendapat saya sekiranya bisa diberitahu dengan santun. Anda baik, saya baik. Anda jahat, yaudah urusan anda. Hehe..

20 November 2015

Angel In The Dark (Short Story)

Seorang anak kecil dengan pipi semerah buah apel matang berlari menerobos kerumunan orang banyak di tengah pasar. Tampak sekali anak itu sangat terburu-buru sambil membawa sebuah keranjang kecil tertutup kain merah muda yang tergantung miring di lengan kecilnya. Dengan mantap ia berbelok ke kiri memasuki sebuah gang sempit yang dipenuhi banyak sekali kendi yang berjejer di dinding gang tersebut.

“Cepat ayo cepat, hampir sampai..”, bisiknya disela napasnya yang terengah-engah. Anak itu berlari semakin ke dalam gang tersebut dan akhirnya ia berhenti di ujung gang itu. Di ujung gang itu terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu ek yang sudah tua, dengan jendela persegi kecil yang tertutup gorden kotor dari dalam pintu. Di sekitar pintu itu juga terdapat hiasan gantungan seperti tengkorak kepala burung kenari dan beberapa biji-bijian aneh.

Anak itu merapikan rambut dan ikat kepalanya yang berantakan karena berlari tadi, dan perlahan maju mendekat ke arah pintu itu dan mengetuknya.

Tok Tok Tok

Ia mundur beberapa langkah, menunggu dengan cemas siapa yang akan membuka pintu itu. Tak beberapa lama kemudian, pintu itu terbuka perlahan. Hanya kegelapan dan hembusan angin dingin menusuk tulang yang keluar dari dalam pintu itu. Anak itu menarik napas dalam dan menutup matanya dan menyanyikan sebuah sajak berirama:

Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Si kecil telah kembali!
Kenari yang hidup kini telah mati,
Dengan kicauan mengiris hati!
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Dapatkah aku masuk?
Tolong, aku ingin masuk!

Anak itu terdiam, kemudian kembali menatap kegelapan di balik celah pintu yang terbuka. Wajahnya cemas menunggu jawaban dari dalam. Tiba-tiba terdengar derap kaki yang mendekat ke arah pintu. “Masuklah, nak! Masuklah!”, terdengar suara parau perempuan tua dari balik pintu. Anak itu tersenyum, pipinya merona. Dengan mantap ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kegelapan itu. Pintu itu perlahan tertutup setelah anak itu menghilang di kegelapan.

Ia kemudian mengeluarkan sebatang lilin dan korek api dari dalam keranjangnya, kemudian menyalakannya. Cahaya lilin itu redup namun cukup untuk menuntunnya dalam kegelapan. Ia berjalan lurus ke depan, wajahnya sama sekali tidak terlihat takut. Jalan yang ia susuri seperti sebuah lorong kayu tua yang dipenuhi lukisan-lukisan anak kecil yang aneh, dan disamping semua lukisan tersebut terdapat boneka porselen yang dibentuk dan didandani mirip dengan anak kecil yang berada di masing-masing lukisan. Matanya seolah-olah mengikuti arah anak itu berjalan dan berkilat saat lilin yang dipegang anak itu melintasi mereka.

Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan dan berdiri di batas antara lorong dan ruangan itu. Ia menggenggam lilin itu dan mengacungkannya ke depan. Tiba-tiba ada sepasang tangan keriput dengan kuku panjang yang tajam menggenggam tangan mungilnya. “Sebutkan namamu, gadis kecil.”, suara parau itu terdengar sangat dekat dengan anak itu. “Angelita.”, jawab anak itu sambil berbisik. Tangan itu perlahan menghilang di dalam kegelapan.

“Nyalakan lilin yang ada di kiri dan kananmu, Angelita.”, kata suara parau tersebut. Angelita mematuhi suara itu dan menyalakan lilin yang tepat berada di kiri dan kanannya. Seketika ruangan itu menjadi terang dan tampak seorang perempuan tua dengan syal ungu yang menutupi badannya sedang duduk di kursi malas merah yang kusam. Perempuan tua itu tidak terlihat menyeramkan, penampilannya tidak ada yang janggal dan tangannya tidak berkuku tajam. Ruangan itu pun terlihat seperti ruang tamu pada umumnya, dengan cat dinding putih bermotif garis hijau dan lantai kayu yang terlihat kokoh. Terdapat karpet bundar coklat muda yang kusam yang menjadi alas di bawah kursi malas itu.

“Nyonya Meil, selamat siang.”, kata Angelita sambil membungkuk hormat. Nyonya Meil mempersilahkan Angelita duduk di sebuah kursi kecil yang terletak tepat di depannya. Angelita mengangguk dan mematuhi apa yang dikatakan Nyonya Meil.

“Ceritakanlah, apa yang bisa kubantu.”, kata Nyonya Meil. Suaranya terdengar lembut dan penuh keibuan, berbeda dengan suara yang tadi menyambut Angelita. Angelita menaruh keranjang kecilnya di pangkuannya dan mulai terisak.

“Kemarin ibuku meninggal karena sakit parah yang dialaminya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kami tidak punya uang untuk mengobati penyakit ibu. Ayahku kabur dan membawa pergi semua uang tabungan ibuku karena terlilit utang berjudi.”,kata Angelita sambil terisak. Nyonya Meil hanya mendengarkan, tidak berkata apapun.

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku rasanya hampir mati. Tapi anak tetanggaku memberitahuku tentang dirimu, Nyonya Meil. Dia menyebutmu Malaikat dalam Kegelapan, yang bisa mengabulkan segala permintaan.”, lanjutnya sambil mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang kotor.
Nyonya Meil mengusap telapak tangannya dan tersenyum. “Aku memang bisa mengabulkan semua permintaan, bahkan yang tergila sekalipun.”, katanya. “Tapi semua permainan pasti ada aturannya, Angelita manis. Kau tahu itu?”, tanya Nyonya Meil pada Angelita. Matanya yang bundar menatap tajam mata Angelita.

Angelita hanya mengangguk pelan. Nyonya Meil tersenyum dan mengacungkan jari telunjuknya. “Pertama, aku hanya bisa mengabulkan dua permintaan. Kedua, harus ada yang kau korbankan setimpal dengan apa yang kau minta. Kau paham?”, katanya pada Angelita.

“Aku mengerti, Nyonya Meil.”, jawab Angelita dengan sedikit takut.

“Tidak perlu takut, anak manis. Sekarang sebutkan, apa permintaanmu?”, kata Nyonya Meil lembut sambil menggenggam kedua tangan Angelita.

“Aku ingin anda menghidupkan kembali ibuku, dan..”, Angelita terdiam sejenak.

“Dan?”, tanya Nyonya Meil.

“Aku ingin anda membunuh ayahku.”, kata Angelita.

“Wah, nak. Permintaanmu sedikit berat buatku. Tapi aku akan mengabulkannya asal kau memenuhi persyaratan yang kedua.”, kata Nyonya Meil.

“Apa yang harus aku korbankan?”, tanya Angelita.

Nyonya Meil mengeluarkan sebuah pisau dibalik syalnya dan memberikannya kepada Angelita. Pisau itu seperti pisau saku dengan ganggang berukir ular dan tengkorak berwarna kuning. “Untuk permintaan pertamamu, aku butuh segenggam rambutmu, bola mata kananmu, sepotong jarimu, dan semangkuk darahmu. Itu cukup untuk menghidupkan kembali ibumu.”, Angelita bergidik mendengar perkataan Nyonya Meil.

“Dan untuk yang kedua, aku butuh jantungmu.”, Angelita terpaku. Mukanya tampak sangat pucat.

“Tapi, Nyonya Meil, itu akan membunuhku. Meskipun ibuku hidup aku tetap tidak bisa bersama dengannya. Itu mustahil kulakukan!”, kata Angelita dengan marah.

Nyonya Meil tersenyum. “Aku tahu kau akan menolaknya.”, kata Nyonya Meil. “Jika kau tidak mau mengorbankan tubuhmu, maka korbankan tubuh orang lain.”

“Maksudmu, aku harus membunuh mereka?”, kata Angelita. Nyonya Meil mengangguk.

“Tetapi kau harus mencari anak yang seumuran denganmu, seorang perempuan juga, dan kau harus menemukannya tengah malam ini. Kalau tidak, kau akan berakhir menjadi boneka porselen seperti yang ada di lorong dan rohmu akan terperangkap di lukisan selamanya.”, kata Nyonya Meil.

Angelita terlihat ketakutan, tapi ia berpikir kembali. Hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa kembali bersama dengan ibunya. Angelita mengangguk dan menyembunyikan pisau pemberian Nyonya Meil di dalam keranjang kecilnya. “Aku akan menemukannya demi ibuku”, kata Angelita dengan mantap.

Nyonya Meil tersenyum puas. “Sampai jumpa nanti malam, anak manis. Aku akan mengawasimu.”, seketika itu juga ruangan menjadi gelap gulita dan tiba-tiba saja Angelita sudah berdiri di depan pintu tua tadi. Warna langit tak berubah dan keadaan di sekitarnya sama persis dengan saat ia pertama kali sampai. Seperti waktu berhenti berjalan saat Angelita masuk ke dalam ruangan itu. Angelita mengintip ke dalam keranjangnya dan mendapati kalau pisau yang diberikan Nyonya Meil ada di dalam keranjangnya, yang membuktikan bahwa kejadian tadi adalah nyata dan bukan sebuah mimpi atau khayalan.

Angelita bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali ke kerumunan orang ramai di pasar. Ia mencari ke setiap sudut pasar tempat biasanya anak-anak jalanan berkumpul untuk meminta-minta atau hanya sekedar bermain. Setiap anak perempuan jalanan yang ia temukan ditanya olehnya dan anehnya tidak ada satupun dari mereka yang seumuran dengannya.

Langit mulai sore dan Angelita masih belum mendapatkan apa yang ia cari. Akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya di taman kota. Ia menemukan beberapa anak perempuan yang sebaya dengannya, tapi mereka semua dijaga ketat oleh orang tuanya masing-masing. Tidak ada celah baginya untuk membawa pergi anak-anak perempuan itu.

Hari mulai malam, jam di taman kota menunjukkan pukul sembilan malam, tiga jam lagi menuju tengah malam tapi Angelita belum menemukan apa yang dicarinya. Dia mulai panik dan ketakutan, membayangkan bahwa dirinya akan menjadi sama seperti patung dan lukisan yang berjejer di lorong kayu mengerikan itu. Di tengah ketakutannya itu ia teringat kalau anak tetangganya yang memberitahukan informasi tentang Nyonya Meil padanya itu seumuran dengannya. Ia bergegas berlari pulang ke rumahnya yang tak jauh dari taman kota.

Rumahnya terletak di pinggir jalan kecil yang sepi, diantara jejeran rumah susun yang sudah terlihat rapuh dan usang. Ia berhenti di sebuah rumah bertembok bata dengan pintu kayu bercat merah dan segera mengetuk pintu rumah itu. “Jess! Jessica! Apa kau ada di dalam?”, Angelita memanggil-manggil nama anak tetangganya itu. Tak lama terdengar derap kaki kecil berlari menuju pintu dan membukanya. Jessica berdiri menatap bingung Angelita yang terlihat sangat kacau.

“Apa yang terjadi, An? Kau habis dikejar anjing tadi?”, tanya Jessica. Angelita menggeleng kuat. “Aku baik-baik saja.”, katanya. “Tapi aku kehilangan benda peninggalan ibuku dan aku tidak bisa menemukannya. Bisakah kau membantuku mencarinya? Aku tidak tahu lagi harus minta tolong dengan siapa.”, kata Angelita gugup.

“Oh, pantas saja kau terlihat kacau! Baiklah aku akan membantumu tapi aku harus meminta izin pada ibuku..”, Angelita langsung menarik tangan Jessica. “Tidak perlu! Aku harus menemukannya sekarang kalau tidak pencuri akan mengambilnya atau anjing liar akan membawanya pergi! Kita harus ke sana sekarang!”, mereka kemudian berlari dengan tergesah-gesah menuju taman kota.

Saat mereka sampai, jam di taman kota sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Angelita semakin panik dan badannya mulai bergetar ketakutan. “Di mana kau menjatuhkannya, An? Cepat beritahu aku, aku tidak mau ibuku tahu kalau aku pergi tanpa pamit. Untungnya dia sedang tidur.”, kata Jessica sambil melihat kesal ke arah Angelita. Angelita melihat ke sekitar dan menemukan tempat yang bagus untuk membunuh Jessica.

“Aku menjatuhkannya di daerah sana saat aku sedang berjalan di sana.”, kata Angelita sambil menunjuk ke arah kumpulan pohon cemara yang lebat dan gelap di sudut taman kota. “Tapi bagaimana bisa kita mencari di dalam gelap?”, tanya Jessica. Tapi Angelita langsung menariknya menuju tempat itu. “Tidak perlu cemas, aku ada lilin!”, kata Angelita.

Mereka sampai di kumpulan pohon cemara itu dan Angelita menyalakan lilin untuk menerangi jalan mereka. “Benda apa yang kau jatuhkan tadi?”, tanya Jessica sambil melihat ke sekitar. Angelita berhenti berjalan, kemudian mengeluarkan pisau dari keranjangnya. “Aku tidak menjatuhkan apapun, Jess.”, jawabnya pelan. “Maksudmu?”, tanya Jessica sambil berbalik menatap Angelita. Seketika itu juga Angelita menghunuskan pisaunya tepat di perut Jessica. Matanya terbelalak menatap Angelita dan pisau yang terhunus di perutnya.

“A-apa yang kau lakukan?”, tanya Jessica terbata-bata. “Maaf, aku tidak punya pilihan lain selain mengorbankanmu untuk menghidupkan ibuku.”, Angelita menarik pisaunya dan menghunuskannya beberapa kali di perut Jessica. Jessica terjatuh di tanah, tatapan matanya mulai kosong, tubuhnya berlumuran darah. Dengan cepat Angelita mencungkil mata kanan Jessica, memotong segenggam rambutnya, memotong satu jari Jessica, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya mengambil darah Jessica.

Terpikir satu cara saat dia melihat kepala Jessica yang sudah tak bernyawa itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memotong tempurung kepala Jessica dengan pisau kecil itu dan dengan bantuan sebuah batu berukuran sedang yang ia temukan tak jauh dari tempatnya. Akhirnya setelah perjuangan keras ia mendapatkan ‘mangkuk’ dari tempurung kepala Jessica, menguliti ‘mangkuk’-nya, kemudian menyayat nadi Jessica dan membiarkan darahnya mengalih memenuhi ‘mangkuk’ tersebut.

Saat Angelita memotong bagian dada Jessica dan berusaha mengambil jantungnya, jam taman kota berdentang keras sebanyak dua belas kali, yang menandakan bahwa sekarang sudah tengah malam. Angelita panik dan tak sengaja memotong jari telunjuk kirinya saat ia berusaha memotong jantung Jessica. Ia meringis kesakitan tapi ia berusaha untuk menahannya. Segera Angelita memasukkan benda-benda yang sudah ia ‘panen’ ke dalam keranjangnya dan bergegas ke rumah Nyonya Meil, berharap dia tidak telat menyerahkan korbannya.

Angelita bergegas menyusuri lorong menuju rumah Nyonya Meil dan menggedor pintu rumah Nyonya Meil. “Aku sudah mendapatkannya! Aku sudah mendapatkannya, Nyonya Meil! Buka pintunya!”, teriak Angelita. Pintu itu terbuka lebar dan tangan keriput berkuku panjang itu keluar dari kegelapan, menarik Angelita masuk ke dalam kegelapan dan pintu itu tertutup rapat.

Tangan itu mencengkram kuat tubuh Angelita sampai ia kesakitan. Ia meronta-ronta ingin melepaskan diri. “Lepaskan aku! Lepaskan!”, kata Angelita sambil memukul tangan itu. Suara parau yang menyeramkan itu terdengar lagi, tapi penuh dengan kemarahan.

KAU TELAT
KAU SUDAH TELAT!
SI KECIL TIDAK AKAN KEMBALI!
KENARI YANG MATI AKAN HIDUP
BERKICAU DI SENJA YANG REDUP!
KAU TELAT
KAU SANGAT TELAT!
KAU TIDAK AKAN KEMBALI
KAU TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI!

=====

Seorang anak lelaki berpakaian lusuh mengetuk sebuah pintu tua. Kemudian menyenandungkan sajak berirama:

Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Si kecil telah kembali!
Kenari yang hidup kini telah mati,
Dengan kicauan mengiris hati!
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Dapatkah aku masuk?
Tolong, aku ingin masuk!

Pintu tua itu terbuka dan terdengar derap kaki mendekati pintu itu dari dalam. “Masuklah, nak! Masuklah!”, kata suara parau itu. Anak lelaki itu melangkah masuk tanpa takut, kemudian menyalakan korek api kecil yang ia bawa di sakunya. Ia berjalan menyusuri sebuah lorong kayu tua yang dipenuhi oleh lukisan dan boneka porselen anak-anak yang aneh. Dia berhenti dan mengamati sebuah lukisan gadis kecil dengan pipi semerah buah apel yang tersenyum aneh dengan tatapan kosong, kemudian mengamati boneka porselen yang mirip sekali dengan lukisan itu tetapi boneka itu kehilangan telunjuk kirinya.

“Sepertinya aku mengenalinya.”, katanya sambil berbisik. “Mungkin Cuma perasaanku saja.”, ia kembali berjalan meninggalkan boneka dan lukisan itu. Anak lelaki itu berhenti di depan sebuah ruangan dan tangan kurus berkuku panjang menggenggam tangan anak itu. “Sebutkan namamu, lelaki kecil.”, suara parau itu terdengar lagi dan sangat dekat dengan anak itu.

“N-namaku Sam..”, jawab anak itu terbata-bata. Tangan itu melepas genggamannya dan menghilang dibalik kegelapan. “Nyalakan lilin di sebelah kiri dan kananmu.”, kata suara parau itu. Sam mematuhinya dan menyalakan lilinnya. Seketika itu juga ruangan menjadi terang dan tampak seorang wanita tua duduk di sebuah kursi malas berwarna merah kusam dan menyuruh Sam mendekat padanya. “Ceritakan, apa yang bisa kubantu.”, kata perempuan tua itu dengan senyuman hangat.

-END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar