Seorang anak kecil dengan pipi
semerah buah apel matang berlari menerobos kerumunan orang banyak di tengah
pasar. Tampak sekali anak itu sangat terburu-buru sambil membawa sebuah
keranjang kecil tertutup kain merah muda yang tergantung miring di lengan kecilnya.
Dengan mantap ia berbelok ke kiri memasuki sebuah gang sempit yang dipenuhi
banyak sekali kendi yang berjejer di dinding gang tersebut.
“Cepat ayo cepat, hampir
sampai..”, bisiknya disela napasnya yang terengah-engah. Anak itu berlari
semakin ke dalam gang tersebut dan akhirnya ia berhenti di ujung gang itu. Di
ujung gang itu terdapat sebuah pintu yang terbuat dari kayu ek yang sudah tua,
dengan jendela persegi kecil yang tertutup gorden kotor dari dalam pintu. Di
sekitar pintu itu juga terdapat hiasan gantungan seperti tengkorak kepala
burung kenari dan beberapa biji-bijian aneh.
Anak itu merapikan rambut dan
ikat kepalanya yang berantakan karena berlari tadi, dan perlahan maju mendekat
ke arah pintu itu dan mengetuknya.
Tok Tok Tok
Ia mundur beberapa langkah,
menunggu dengan cemas siapa yang akan membuka pintu itu. Tak beberapa lama
kemudian, pintu itu terbuka perlahan. Hanya kegelapan dan hembusan angin dingin
menusuk tulang yang keluar dari dalam pintu itu. Anak itu menarik napas dalam
dan menutup matanya dan menyanyikan sebuah sajak berirama:
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Si kecil telah kembali!
Kenari yang hidup kini telah mati,
Dengan kicauan mengiris hati!
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Dapatkah aku masuk?
Tolong, aku ingin masuk!
Anak itu
terdiam, kemudian kembali menatap kegelapan di balik celah pintu yang terbuka.
Wajahnya cemas menunggu jawaban dari dalam. Tiba-tiba terdengar derap kaki yang
mendekat ke arah pintu. “Masuklah, nak! Masuklah!”, terdengar suara parau
perempuan tua dari balik pintu. Anak itu tersenyum, pipinya merona. Dengan
mantap ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kegelapan itu. Pintu itu perlahan
tertutup setelah anak itu menghilang di kegelapan.
Ia kemudian
mengeluarkan sebatang lilin dan korek api dari dalam keranjangnya, kemudian
menyalakannya. Cahaya lilin itu redup namun cukup untuk menuntunnya dalam
kegelapan. Ia berjalan lurus ke depan, wajahnya sama sekali tidak terlihat
takut. Jalan yang ia susuri seperti sebuah lorong kayu tua yang dipenuhi
lukisan-lukisan anak kecil yang aneh, dan disamping semua lukisan tersebut
terdapat boneka porselen yang dibentuk dan didandani mirip dengan anak kecil
yang berada di masing-masing lukisan. Matanya seolah-olah mengikuti arah anak
itu berjalan dan berkilat saat lilin yang dipegang anak itu melintasi mereka.
Akhirnya ia
sampai di sebuah ruangan dan berdiri di batas antara lorong dan ruangan itu. Ia
menggenggam lilin itu dan mengacungkannya ke depan. Tiba-tiba ada sepasang
tangan keriput dengan kuku panjang yang tajam menggenggam tangan mungilnya.
“Sebutkan namamu, gadis kecil.”, suara parau itu terdengar sangat dekat dengan
anak itu. “Angelita.”, jawab anak itu sambil berbisik. Tangan itu perlahan
menghilang di dalam kegelapan.
“Nyalakan lilin
yang ada di kiri dan kananmu, Angelita.”, kata suara parau tersebut. Angelita
mematuhi suara itu dan menyalakan lilin yang tepat berada di kiri dan kanannya.
Seketika ruangan itu menjadi terang dan tampak seorang perempuan tua dengan
syal ungu yang menutupi badannya sedang duduk di kursi malas merah yang kusam.
Perempuan tua itu tidak terlihat menyeramkan, penampilannya tidak ada yang
janggal dan tangannya tidak berkuku tajam. Ruangan itu pun terlihat seperti
ruang tamu pada umumnya, dengan cat dinding putih bermotif garis hijau dan
lantai kayu yang terlihat kokoh. Terdapat karpet bundar coklat muda yang kusam
yang menjadi alas di bawah kursi malas itu.
“Nyonya Meil,
selamat siang.”, kata Angelita sambil membungkuk hormat. Nyonya Meil
mempersilahkan Angelita duduk di sebuah kursi kecil yang terletak tepat di
depannya. Angelita mengangguk dan mematuhi apa yang dikatakan Nyonya Meil.
“Ceritakanlah,
apa yang bisa kubantu.”, kata Nyonya Meil. Suaranya terdengar lembut dan penuh
keibuan, berbeda dengan suara yang tadi menyambut Angelita. Angelita menaruh
keranjang kecilnya di pangkuannya dan mulai terisak.
“Kemarin ibuku
meninggal karena sakit parah yang dialaminya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
karena kami tidak punya uang untuk mengobati penyakit ibu. Ayahku kabur dan
membawa pergi semua uang tabungan ibuku karena terlilit utang berjudi.”,kata
Angelita sambil terisak. Nyonya Meil hanya mendengarkan, tidak berkata apapun.
“Aku sudah
tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku rasanya hampir mati. Tapi anak
tetanggaku memberitahuku tentang dirimu, Nyonya Meil. Dia menyebutmu Malaikat
dalam Kegelapan, yang bisa mengabulkan segala permintaan.”, lanjutnya sambil
mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang kotor.
Nyonya Meil
mengusap telapak tangannya dan tersenyum. “Aku memang bisa mengabulkan semua
permintaan, bahkan yang tergila sekalipun.”, katanya. “Tapi semua permainan
pasti ada aturannya, Angelita manis. Kau tahu itu?”, tanya Nyonya Meil pada
Angelita. Matanya yang bundar menatap tajam mata Angelita.
Angelita hanya
mengangguk pelan. Nyonya Meil tersenyum dan mengacungkan jari telunjuknya.
“Pertama, aku hanya bisa mengabulkan dua permintaan. Kedua, harus ada yang kau
korbankan setimpal dengan apa yang kau minta. Kau paham?”, katanya pada
Angelita.
“Aku mengerti,
Nyonya Meil.”, jawab Angelita dengan sedikit takut.
“Tidak perlu
takut, anak manis. Sekarang sebutkan, apa permintaanmu?”, kata Nyonya Meil
lembut sambil menggenggam kedua tangan Angelita.
“Aku ingin anda
menghidupkan kembali ibuku, dan..”, Angelita terdiam sejenak.
“Dan?”, tanya
Nyonya Meil.
“Aku ingin anda
membunuh ayahku.”, kata Angelita.
“Wah, nak.
Permintaanmu sedikit berat buatku. Tapi aku akan mengabulkannya asal kau
memenuhi persyaratan yang kedua.”, kata Nyonya Meil.
“Apa yang harus
aku korbankan?”, tanya Angelita.
Nyonya Meil
mengeluarkan sebuah pisau dibalik syalnya dan memberikannya kepada Angelita.
Pisau itu seperti pisau saku dengan ganggang berukir ular dan tengkorak
berwarna kuning. “Untuk permintaan pertamamu, aku butuh segenggam rambutmu, bola
mata kananmu, sepotong jarimu, dan semangkuk darahmu. Itu cukup untuk
menghidupkan kembali ibumu.”, Angelita bergidik mendengar perkataan Nyonya
Meil.
“Dan untuk yang
kedua, aku butuh jantungmu.”, Angelita terpaku. Mukanya tampak sangat pucat.
“Tapi, Nyonya
Meil, itu akan membunuhku. Meskipun ibuku hidup aku tetap tidak bisa bersama
dengannya. Itu mustahil kulakukan!”, kata Angelita dengan marah.
Nyonya Meil
tersenyum. “Aku tahu kau akan menolaknya.”, kata Nyonya Meil. “Jika kau tidak
mau mengorbankan tubuhmu, maka korbankan tubuh orang lain.”
“Maksudmu, aku
harus membunuh mereka?”, kata Angelita. Nyonya Meil mengangguk.
“Tetapi kau
harus mencari anak yang seumuran denganmu, seorang perempuan juga, dan kau
harus menemukannya tengah malam ini. Kalau tidak, kau akan berakhir menjadi
boneka porselen seperti yang ada di lorong dan rohmu akan terperangkap di
lukisan selamanya.”, kata Nyonya Meil.
Angelita
terlihat ketakutan, tapi ia berpikir kembali. Hanya ini satu-satunya cara agar
dia bisa kembali bersama dengan ibunya. Angelita mengangguk dan menyembunyikan
pisau pemberian Nyonya Meil di dalam keranjang kecilnya. “Aku akan menemukannya
demi ibuku”, kata Angelita dengan mantap.
Nyonya Meil
tersenyum puas. “Sampai jumpa nanti malam, anak manis. Aku akan mengawasimu.”,
seketika itu juga ruangan menjadi gelap gulita dan tiba-tiba saja Angelita
sudah berdiri di depan pintu tua tadi. Warna langit tak berubah dan keadaan di
sekitarnya sama persis dengan saat ia pertama kali sampai. Seperti waktu
berhenti berjalan saat Angelita masuk ke dalam ruangan itu. Angelita mengintip
ke dalam keranjangnya dan mendapati kalau pisau yang diberikan Nyonya Meil ada
di dalam keranjangnya, yang membuktikan bahwa kejadian tadi adalah nyata dan
bukan sebuah mimpi atau khayalan.
Angelita
bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali ke kerumunan orang ramai di pasar.
Ia mencari ke setiap sudut pasar tempat biasanya anak-anak jalanan berkumpul
untuk meminta-minta atau hanya sekedar bermain. Setiap anak perempuan jalanan
yang ia temukan ditanya olehnya dan anehnya tidak ada satupun dari mereka yang
seumuran dengannya.
Langit mulai
sore dan Angelita masih belum mendapatkan apa yang ia cari. Akhirnya ia
memutuskan untuk mencarinya di taman kota. Ia menemukan beberapa anak perempuan
yang sebaya dengannya, tapi mereka semua dijaga ketat oleh orang tuanya
masing-masing. Tidak ada celah baginya untuk membawa pergi anak-anak perempuan
itu.
Hari mulai
malam, jam di taman kota menunjukkan pukul sembilan malam, tiga jam lagi menuju
tengah malam tapi Angelita belum menemukan apa yang dicarinya. Dia mulai panik
dan ketakutan, membayangkan bahwa dirinya akan menjadi sama seperti patung dan
lukisan yang berjejer di lorong kayu mengerikan itu. Di tengah ketakutannya itu
ia teringat kalau anak tetangganya yang memberitahukan informasi tentang Nyonya
Meil padanya itu seumuran dengannya. Ia bergegas berlari pulang ke rumahnya
yang tak jauh dari taman kota.
Rumahnya
terletak di pinggir jalan kecil yang sepi, diantara jejeran rumah susun yang
sudah terlihat rapuh dan usang. Ia berhenti di sebuah rumah bertembok bata
dengan pintu kayu bercat merah dan segera mengetuk pintu rumah itu. “Jess!
Jessica! Apa kau ada di dalam?”, Angelita memanggil-manggil nama anak
tetangganya itu. Tak lama terdengar derap kaki kecil berlari menuju pintu dan
membukanya. Jessica berdiri menatap bingung Angelita yang terlihat sangat
kacau.
“Apa yang
terjadi, An? Kau habis dikejar anjing tadi?”, tanya Jessica. Angelita
menggeleng kuat. “Aku baik-baik saja.”, katanya. “Tapi aku kehilangan benda
peninggalan ibuku dan aku tidak bisa menemukannya. Bisakah kau membantuku
mencarinya? Aku tidak tahu lagi harus minta tolong dengan siapa.”, kata
Angelita gugup.
“Oh, pantas
saja kau terlihat kacau! Baiklah aku akan membantumu tapi aku harus meminta
izin pada ibuku..”, Angelita langsung menarik tangan Jessica. “Tidak perlu! Aku
harus menemukannya sekarang kalau tidak pencuri akan mengambilnya atau anjing
liar akan membawanya pergi! Kita harus ke sana sekarang!”, mereka kemudian
berlari dengan tergesah-gesah menuju taman kota.
Saat mereka
sampai, jam di taman kota sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh
lima menit. Angelita semakin panik dan badannya mulai bergetar ketakutan. “Di
mana kau menjatuhkannya, An? Cepat beritahu aku, aku tidak mau ibuku tahu kalau
aku pergi tanpa pamit. Untungnya dia sedang tidur.”, kata Jessica sambil
melihat kesal ke arah Angelita. Angelita melihat ke sekitar dan menemukan
tempat yang bagus untuk membunuh Jessica.
“Aku
menjatuhkannya di daerah sana saat aku sedang berjalan di sana.”, kata Angelita
sambil menunjuk ke arah kumpulan pohon cemara yang lebat dan gelap di sudut
taman kota. “Tapi bagaimana bisa kita mencari di dalam gelap?”, tanya Jessica.
Tapi Angelita langsung menariknya menuju tempat itu. “Tidak perlu cemas, aku
ada lilin!”, kata Angelita.
Mereka sampai
di kumpulan pohon cemara itu dan Angelita menyalakan lilin untuk menerangi
jalan mereka. “Benda apa yang kau jatuhkan tadi?”, tanya Jessica sambil melihat
ke sekitar. Angelita berhenti berjalan, kemudian mengeluarkan pisau dari
keranjangnya. “Aku tidak menjatuhkan apapun, Jess.”, jawabnya pelan.
“Maksudmu?”, tanya Jessica sambil berbalik menatap Angelita. Seketika itu juga
Angelita menghunuskan pisaunya tepat di perut Jessica. Matanya terbelalak
menatap Angelita dan pisau yang terhunus di perutnya.
“A-apa yang kau
lakukan?”, tanya Jessica terbata-bata. “Maaf, aku tidak punya pilihan lain
selain mengorbankanmu untuk menghidupkan ibuku.”, Angelita menarik pisaunya dan
menghunuskannya beberapa kali di perut Jessica. Jessica terjatuh di tanah,
tatapan matanya mulai kosong, tubuhnya berlumuran darah. Dengan cepat Angelita
mencungkil mata kanan Jessica, memotong segenggam rambutnya, memotong satu jari
Jessica, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya mengambil darah Jessica.
Terpikir satu cara
saat dia melihat kepala Jessica yang sudah tak bernyawa itu. Ia berusaha sekuat
tenaga untuk memotong tempurung kepala Jessica dengan pisau kecil itu dan
dengan bantuan sebuah batu berukuran sedang yang ia temukan tak jauh dari
tempatnya. Akhirnya setelah perjuangan keras ia mendapatkan ‘mangkuk’ dari
tempurung kepala Jessica, menguliti ‘mangkuk’-nya, kemudian menyayat nadi
Jessica dan membiarkan darahnya mengalih memenuhi ‘mangkuk’ tersebut.
Saat Angelita
memotong bagian dada Jessica dan berusaha mengambil jantungnya, jam taman kota
berdentang keras sebanyak dua belas kali, yang menandakan bahwa sekarang sudah
tengah malam. Angelita panik dan tak sengaja memotong jari telunjuk kirinya
saat ia berusaha memotong jantung Jessica. Ia meringis kesakitan tapi ia
berusaha untuk menahannya. Segera Angelita memasukkan benda-benda yang sudah ia
‘panen’ ke dalam keranjangnya dan bergegas ke rumah Nyonya Meil, berharap dia
tidak telat menyerahkan korbannya.
Angelita
bergegas menyusuri lorong menuju rumah Nyonya Meil dan menggedor pintu rumah
Nyonya Meil. “Aku sudah mendapatkannya! Aku sudah mendapatkannya, Nyonya Meil!
Buka pintunya!”, teriak Angelita. Pintu itu terbuka lebar dan tangan keriput
berkuku panjang itu keluar dari kegelapan, menarik Angelita masuk ke dalam
kegelapan dan pintu itu tertutup rapat.
Tangan itu
mencengkram kuat tubuh Angelita sampai ia kesakitan. Ia meronta-ronta ingin
melepaskan diri. “Lepaskan aku! Lepaskan!”, kata Angelita sambil memukul tangan
itu. Suara parau yang menyeramkan itu terdengar lagi, tapi penuh dengan
kemarahan.
KAU TELAT
KAU SUDAH TELAT!
SI KECIL TIDAK AKAN KEMBALI!
KENARI YANG MATI AKAN HIDUP
BERKICAU DI SENJA YANG REDUP!
KAU TELAT
KAU SANGAT
TELAT!
KAU TIDAK AKAN
KEMBALI
KAU TIDAK AKAN
PERNAH KEMBALI!
=====
Seorang anak lelaki
berpakaian lusuh mengetuk sebuah pintu tua. Kemudian menyenandungkan sajak
berirama:
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Si kecil telah kembali!
Kenari yang hidup kini telah mati,
Dengan kicauan mengiris hati!
Oh, Nyonya Meil
Oh, Nyonya Meil!
Dapatkah aku masuk?
Tolong, aku ingin masuk!
Pintu tua itu
terbuka dan terdengar derap kaki mendekati pintu itu dari dalam. “Masuklah,
nak! Masuklah!”, kata suara parau itu. Anak lelaki itu melangkah masuk tanpa
takut, kemudian menyalakan korek api kecil yang ia bawa di sakunya. Ia berjalan
menyusuri sebuah lorong kayu tua yang dipenuhi oleh lukisan dan boneka porselen
anak-anak yang aneh. Dia berhenti dan mengamati sebuah lukisan gadis kecil
dengan pipi semerah buah apel yang tersenyum aneh dengan tatapan kosong, kemudian
mengamati boneka porselen yang mirip sekali dengan lukisan itu tetapi boneka
itu kehilangan telunjuk kirinya.
“Sepertinya aku
mengenalinya.”, katanya sambil berbisik. “Mungkin Cuma perasaanku saja.”, ia
kembali berjalan meninggalkan boneka dan lukisan itu. Anak lelaki itu berhenti
di depan sebuah ruangan dan tangan kurus berkuku panjang menggenggam tangan
anak itu. “Sebutkan namamu, lelaki kecil.”, suara parau itu terdengar lagi dan
sangat dekat dengan anak itu.
“N-namaku
Sam..”, jawab anak itu terbata-bata. Tangan itu melepas genggamannya dan
menghilang dibalik kegelapan. “Nyalakan lilin di sebelah kiri dan kananmu.”,
kata suara parau itu. Sam mematuhinya dan menyalakan lilinnya. Seketika itu
juga ruangan menjadi terang dan tampak seorang wanita tua duduk di sebuah kursi
malas berwarna merah kusam dan menyuruh Sam mendekat padanya. “Ceritakan, apa
yang bisa kubantu.”, kata perempuan tua itu dengan senyuman hangat.
-END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar